Tempat Wisata Di Pulau Sempu Ujung Timur Pulau Jawa

Khas Wisata ~
Tempat Wisata Di Pulau Sempu Ujung Timur Pulau Jawa, Pulau yang merupakan Cagar Alam seluas 877 Ha itu konon memiliki panorama dengan pemandangan pasir putih yang indah hampir di semua pantainya, deru ombak yang bergemuruh khas ombak pantai selatan Jawa, dan yang paling unik adalah terdapatnya sebuah danau air asin yang berada di ujung pulau, Danau Segara Anakan.

Un-Planed Travel
Membaca artikel Unplanned Traveler di rubrik Travelgal yang dimuat di Liburan edisi Agustus, teringat kejadian saat aku melakukan Unplanned Traveling ke sebuah pulau yang selama ini hanya aku ketahui dari pembicaraan rekan-rekan se-group di Facebook yang konon katanya Indah dan menawan, Berawal dari sebuah perjalanan dinas sehari ke kota Surabaya yang jatuh pada hari kamis dan artinya akan kembali ke Jakarta hari jumat, pas weekend. Saat setelah semua pekerjaan di kantor Surabaya selesai dan balik ke hotel, tiba-tiba terbersit pikiran untuk mengeksplor Jawa Timur yang bisa aku lakukan di weekend ini.

Tempat Wisata Di Pulau Sempu Ujung Timur Pulau Jawa

Terpikirlah untuk mencoba menelusuri daerah selatan Jawa Timur di mana terdapat pulau yang sering dibahas oleh teman-teman di group Jalan Kaki di Facebook – sebuah grup yang beranggotakan para backpacker, hiker, climber dari beberapa daerah di Indonesia. Pulau Sempu, yang terletak sekitar 88 km dari kota malang. Berbekal peta sederhana yang aku dapatkan dari receptionist hotel, perjalanan dimulai dengan memasuki tol pasuruan. Sempat mampir ke lokasi Lumpur Porong di Sidoarjo untuk mengambil gambar, perjalanan dilanjutkan ke kota malang. Namanya juga unplanned traveling dan aku lakukan secara solo tanpa ada yang menemani dan hanya berbekal selembar peta kecil, aku pun bisa mampir ke manapun yang dinginkan.

Selanjutnya mampir ke Singosari untuk melihat Candi Singosari. Salah satu kekurangan saat melakukan traveling sendiri adalah kesulitan saat minta difoto, apalagi menggunakan kamera DSLR yang aku bawa yang tentunya tidak mudah untuk digunakan oleh siapapun, khususnya para masyarakat yang ada di sekitar lokasi. Kondisi itu diperparah karena aku tidak membawa tripod. Apa daya, kegiatan narsis hanya bisa dilakukan dengan menggunakan kamera blackberry yang sedikit lebih ‘memasyarakat’.

Sempu Island, i am Coming
Sebenarnya perjalanan ini aku lakukan saat bulan puasa Agustus 2011 atau 2012 lalu. Setelah makan sahur, ala kadarnya karena hotel tempatku menginap dengan rate 100 ribu per malam ternyata tidak menyediakan makan sahur. Yah cukuplah dengan menyantap sebungkus kripik pisang dan minum juice yang seyogyanya aku bawa sebagai bekal buat berbuka puasa. Pagi hari sekitar jam 7, aku memulai perjalananku ke Pulau Sempu.

Tiba di Sendang biru, pelabuhan tempat menyeberang ke Pulau Sempu, sekitar jam 11. Akupun lalu bertanya-tanya mengenai cara menyeberang dan tariff penyeberangan ke pulau yang sudah ada di depan mata tersebut. Ternyata aku harus terlebih dahulu melapor ke petugas kehutanan yang ada di Sendang Biru karena pulau sempu ini masuk dalam kawasan cagar alam yang dilindungi dan seyogyanya hanya untuk keperluan konservasi dan riset. Setelah memberikan gambaran kepada petugas cagar alam tentang maksud dan tujuan kedatanganku, akupun dipersilahkan untuk memasuki kawasan cagar alam dan pulau indah yang tak berpenghuni tersebut.

Karena aku berjalan sendiri, aku mendapat sebuah bonus, dikawal langsung oleh petugas polisi hutan yang bernama pak joko Wiyono. Dengan perahu sewaa seharga 100 ribu pulang pergi selama sekitar 10 menit dari pantai sendang biru, kami pun tiba di Teluk Semut, tempat pertama kali pengunjung akan menginjakkan kaki di Pulau Sempu. Sepanjang perjalanan, pak Djoko menceritakan banyak hal sehubungan dengan Pulau Sempu kaitannya dengan kawasan konservasi dan keperluan riset, termasuk desas desus bahwa Pulau tersbut masih dihuni oleh macan karena adanya sebuah tempat yang bernama Goa Macan. Obrolan kami pun nyambung saat aku info bahwa aku adalah alumni mahasiswa kehutanan dari Universitas Hasanuddin dan skripsiku berisikan materi tentang kesesuaian lahan hubungannya dengan konservasi. Ceritapun mengalir hingga tanpa terasa kami pun mulai mendengar suara ombak.

Perjalanan selama 45 menit itu dengan melewati hutan, tanjakan dan turunan tanpa terasa telah membawa kami ke bibir Danau Segara Anakan, danau yang berada di pinggir pulau. Aku segera mengeluarkan kamera dan mulai mengambil gambar dari celah dedaunan. Aku sudah tidak sabar ingin mengambil photo danau yang berisikan air bening dan kehijauan tersebut. Pak Djoko mengingatkan bahwa nanti di depan akan banyak pemandangan bagus, jadi harap kameranya di ‘hemat’.

 Aku menjelaskan bahwa kamera ini bisa menyimpan sekitar 1000 buah photo dan baterai kamera dalam kondisi full, beliapun terdiam. Mungkin beliau masih menganggap bahwa kamera yang aku bawa adalah kamera manual yang masih menggunakan roll film. Setiba di bibir danau, aku merasakan bulu kudukku berdiri menyaksikan pemandangan danau yang sangat luar biasa indahnya. Jika Anda pernah menyaksikan film The Beach yang dibintangi Leonardo Dicaprio yang lokasi syutingnya di Phuket.

Danau ini boleh dikatakan mirip dengan yang ada di film tersebut. Air bening yang berwarna kehijauan, pasir putih dan dikelilingi bukit bukit dan tebing serta suara ombak yang bergemuruh. Aku mengucap syukur akan kebesaran Sang Pencipta, dan semua itu menghilangkan rasa lapar karena berpuasa dan rasa lelah dalam 5 jam perjalanan. Berbeda dengan danau-danau lain yang bersi air tawar, Danau Segara Anakan ini berisi air asin karena airnya berasal dari air laut di sebelahnya. Antara laut dan danau ada sebuah lubang yang menjadi ‘penyuplai air’ untuk danau tersebut. Setiap kali ombak datang, sebagian air laut akan ‘menyeberang’ ke danau melewati sebuah lubang yang terdapat di tebing pembatas antara laut dan danau. Tampak beberapa orang wisatawan mancanegara dan lokal sedang asyik berenang dan bermain bola pantai, dan beberapa orang yang sedang asyik berjemur sambil membaca.

Selain para wisatawan, sebenarnya pulau ini dihuni oleh sekelompok kera ekor panjang yang terkadang ‘iseng’ mengganggu. Pak Djoko menunjukkan sebuah tempat di puncak tebing jika aku ingin mengambil gambar lautan lepas Samudera Hindia dari ketinggian. Dengan mendaki beberapa meter ke puncak tebing, tampak di depan mata bentangan Samudera Hindia dengan tebing-tebing yang menawan, tentu saja dengan gemuruh ombak yang menggelegar. Pemandangan menakjubkan itupun terekam di kamera dengan sempurna, dilengkapi dengan warna biru langit dan cuaca yang sangat bersahabat.

Another Beautiful Island
Setelah puas mengambil gambar di Danau Segara Anakan, Kami melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi beberapa pantai. Pantai pertama yang kami kunjungi adalah pantai kembar 1. Dikatakan kembar 1 karena ada kembar 2 di sebelahnya, yang memiliki panorama yang sangat mirip hanya beda luasan saja. Dengan didominasi tebingtebing dan batu di tengah laut serta gemuruh ombak yang menggelegar, pantai kembar 1 dan kembar 2 memberikan spot yang luar biasa indahnya. Rasanya aku takkan pernah puas mengambil gambar di tempat ini. Kami pun berpindah ke pantai ke 3 yakni pantai Pasir Panjang. Perjalanan ke pantai ini dari pantai kembar 2 harus berhati-hati karena melewati celah batu dan tebing terjal. Bahkan di salah satu sisi, kami harus menuruni tebing dengan menggunakan tangga sederhana serta merayap di celah bebatuan. Sama dengan 2 pantai sebelumnya, pantai Pasir Panjang ini pun memiliki panorama yang tak kalah indahnya.

Didominasi oleh batu-batu di tengah laut yang lebih banyak serta eksotisme tebing-tebing yang menawan dengan hamparan pasir putih yang lebih luas, pemandangan di pantai ini sangat menakjubkan. Sebuah batu yang berada di tengah laut mengingakanku pada batu James Bond yang ada di Phuket. Menurut Pak Djoko, beberapa stasiun TV Swasta nasional pernah menjadikan lokasi ini sebagai lokasi syuting. Ingin rasanya berlama-lama di tempat ini, namun matahari semakin condong ke barat pertanda tak lama lagi akan turun senja yang artinya aku harus segera meninggalkan pulau yang tak akan terlupakan itu.

Kami pun segera bergegas meninggalkan pantai Pasir Panjang untuk kembali ke Tanjung Semut di mana kapal sudah menunggu kami. Sama dengan saat pergi, perjalanan pulang pun kami tempuh sekitar 45 menit. Dalam perjalanan pulang ke Sendang Biru kami masih disuguhkan pemandangan menarik yakni puncak Semeru dengan wedus gembelnya dan dilatar belakangi biru langit yang jernih saat itu. Suara burung camar yang beterbangan di sela-sela perahu serta desir ombak menambah indahnya suasana sore dan membuat aku menjadi sangat enggan meninggalkan ‘surga’ itu. Perjalanan unplanned travelingku pun akan dilanjutkan lagi ke sebuah tempat yang saat berangkat ke Pulau Sempu aku lihat di papan penunjuk jalan : Pantai Balekambang.
Foto gambar ilustrasi by sonne-sol.deviantart.com, source majalahliburan.com
View Lokasi Via Google Maps
Baca juga :

Mungkin itulah Artikel Kali ini kami sampaikan, semoga tambah wawasan kita dalam dunia Pariwisata khusunya bagi anda yang suka berpergian mengeliling tempat-tempat terbaik dan populer, selamat traveling

Keindahan Wisata Pantai Maluk Di Pulau Sumbawa

Gaji WANITA Besar, Apakah PRIA Jadi Minder ?