Terjemahan Artikel Perang Afghanistan Dari WikiLeaks

LAPORAN CIA TENTANG BAGAIMANA MENAIKKAN DUKUNGAN DARI NEGARA-NEGARA EROPA BARAT DALAM PERANG AFGHAN
CONFIDENTIAL//NOFORN (RAHASIA)
CIA Red Cell
Memorandum Khusus Red Cell
11 Maret 2010
Afghanistan: Upaya Mempertahankan Dukungan dari Eropa Barat kepada NATO -Pemimpin Operasi- Bertumpu pada Sikap Apatis Tidak Akan Cukup (C//NF)
Penarikan dukungan pasukan Belanda oleh pemerintahnya dari Afghanistan menunjukkan lemahnya dukungan Eropa terhada NATO-pemimpin misi ISAF (International Security Assitance Force / Tentara Aliansi). Beberapa negara anggota NATO,Perancis dan Jerman, memperhatikan apatisme publik terhadap Afghanistan untuk meningkatkan kontribusinya dalam misi tersebut, tetapi perbedaan tersebut dapat menjurus ke arah permusuhan yang nyata apabila peperangan tersebut menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak dan jika negara-negara lain melakukan hal yang sama seperti Belanda, mempertanyakan bantuan pasukan. Red Cell mengundang pakar pakar strategi komunikasi dan analisis opini publik dari CIA di Departemen INR (Intelegence and Research) untuk mempertimbangkan pendekatan yang lebih baik terhadap Perancis, Jerman, dan negara Eropa Barat lainnya. (C//NF)
Apatisme Publik Memungkinkan Pemimpin Mengabaikan Permintaan. . .(C//NF)
Rendahnya dukungan publik terhadap misi Afghanistan telah menjadikan Para Pemimpin Perancis dan Jerman ke posisi yang tidak menguntungkan dalam hal meningkatkan jumlah pasukan tambahan ke ISAF. Berlin dan Paris mengatur jumlah dukungan pasukan agar tetap di posisi ketiga dan keempat di peringkat jumlah pasukan ISAF, meskipun 80 persen responden ISAF menyatakan perlunya peningkatan jumlah personel ISAF, berdasarkan jajak pendapat INR di tahun 2009.
�         Hanya sebagian kecil (antara 0,1 sampai 1,3 persen) responden Perancis dan Jerman menyatakan Afghanistan sebagai isu penting yang dihadapi negaranya. Masyarakat menyatakan �stabilisasi Afghanistan�bukan sebagai prioritas utama bagi pemimpin Amerika dan Eropa, berdasarkan jajak pendapat GMF (German Marshall Fund) dua tahun lalu.
�         Berdasarkan jajak pendapat INR di tahun 2009, dinyatakan oleh sebagian besar penduduk Jerman dan Perancis bahwa misi Afghanistan adalah hal yang sia-sia bagi kita. Sentimen �bukan urusan kita� juga dilontarkan publik mengenai pengiriman pasukan ke Afghanistan.
. . .Jatuhnya Korban Jiwa Juga Menyimpan Dendam (C//NF)
Jika perkiraan-perkiraan di atas menjadi kenyataan di Afghanistan, pasifnya Perancis dan Jerman yang tidak terlalu menyetujui keberadaan pasukannya disana, akan menimbulkan permusuhan yang nyata dan meningkatkan ketegangan politik. Sinyalmen sebelumnya, korban sipil yang jatuh dikarenakan pasukan Perancis dan Jerman di Afghanistan dapat menjadi titik balik mereka dari status koalisi oposisi pasif menjadi penarikan pasukan aktif sesegera mungkin. (C//NF)
Komitmen Perancis dan Jerman terhadap NATO adalah menjaga jumlah pasukan, tetapi para pemimpinnya harus membayar mahal penambahan jumlah pasukan atau menambah waktu pendudukan ini dengan konsekuensi politik yang mahal. Jika Kekuatan politik dalam negeri Belanda memaksa untuk memberangkatkan (pasukan,-penj), politisi di tempat lain akan berupaya mendengarkan publik. Perancis dan Jerman dalam dua tahun terakhir mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi meningkatnya perlawanan, tetapi belakangan keadaan menjadi lebih genting:
�         Untuk memperkuat dukungan, Presiden Sarkozy memanggil Komisi Nasional �persetujuannya tidak dibutuhkan ISAF-untuk mengesahkan misi Perancis setelah kematian 10 prajurit Perancis pada bulan Agustus 2008. Pemerintah dengan mudah meraih dukungan dan meredakan ketegangan dan memberikan dukungan kepada Sarkozy untuk memeberikan sekitar 3000 tentara tambahan. Berdasarkan jajak pendapat INR tahun 2009, bagaimanapun juga Sarkozy akan lebih rentan mendapat laporan tentang meningkatnya jumlah korban, karena partainya menghadapi pemilihan penting Maret ini dan dukungan kepada ISAF sudah menurun sejak 31 Maret 2009.
�         Dampak politik bagi Jerman yang melakukan serangan udara di Kunduz pada bulan September 2009 yang membunuh puluhan warga sipil Afghanistan, menimbulkan opini yang serius ketika isu ini sampai ke ranah publik. Konselir Merkel-yang sudah menunjukkan sikapnya yang tidak terlalu setuju terhadap kebijakan politik Afghanistan-memperhatikan secara serius dampak dari isu nasional ini, dan akan lebih berhati-hati dalam memberikan kontribusi terhadap ISAF. (C//NF)
Berita Selanjutnya Dapat Mencegah atau Minimal Menimbulkan Reaksi (C//NF)
Masyarakat Eropa Barat akan memberikan respon terhadap militer yang lebih besar dan korban jiwa yang jatuh di kalangan sipil jika mereka dengan jelas dapat melihat hubungan antara hasil di Afghanistan dan prioritas negara masing-masing. Strategi komunikasi yang konsisten dan berkesinambungan mengenai kontribusi pasukan ke NATO menjadi isu utama masyarakat Eropa Barat dapat berubah menjadi apatisme ke bentuk perlawanan kepada ISAF, dan memberikan pandangan yang lebih luas kepada para politisi untuk mendukung pendudukan di Afghanistan. (C//NF)
Perancis Memperhatikan Penduduk dan Tawanan. Fokus terhadap berita bahwa ISAF menguntungkan penduduk sipil Afghan dan dengan mengambil contoh-contoh penting dapat membatasi dan bahkan mungkin menghilangkan pertentangan terhadap misi Afghanistan. Selanjutnya itu akan meningkatkan kepedulian terhadap sipil dan tawanan. Pendukung ISAF yang beranggapan  bahwa pendudukan ini menolong penduduk Afghan menurun tajam di tahun 2009 berdasarkan survei INR, sedangkan di sisi lain kelompok yang menganggap misi tersebut memakan korban sipil terus meningkat. Kontradiksi mengenai �ISAF lebih banyak menebarkan kerusakan dibanding kebaikan� sangatlah penting, khususnya bagi minoritas Muslim Perancis:
�         Menyoroti dukungan luas Afghan untuk ISAF dapat menunjukkan dampak positif operasi terhadap para penduduk Afghan. Sekitar dua per tiga penduduk Afghan mendukung kehadiran pasukan ISAF di Afghanistan, berdasarkan jajak pendapat resmi ABC/BBC/ADR pada bulan Desember 2009. Berdasarkan jajak pendapat INR yang diterbitkan tahun 2009, narasumber Perancis dan Jerman percaya bahwa penduduk Afghan menolak kedatangan ISAF-sekitar 48 dan 52 persen- dan ini lebih memungkinkan dalam hal penolakan partisipasi dalam misi tersebut.
�         Sebaliknya, berita yang mendramatisasi konsekuensi negatif kekalahan ISAF terhadap penduduk sipil Afghan dapat membuat Perancis (dan negara Eropa lainnya) disalahkan karena meninggalkan mereka. Peluang mengalahkan Taliban akan didapat dari memprovokasi Perancis dengan isu pendidikan wanita, isu ini menjadi titik tolak pemenangan opini dari komunitas besar sekular di publik di Perancis
�         Kontroversi media yaitu pengusiran 12 orang pengungsi Afghan di akhir tahun 2009 menjadi kisah yang menunjukkan bahwa isu pengungsi Afghan sangat berpengaruh terhadap masyarakat Perancis. Pemerintah Perancis telah menyerukan perang melawan kejahatan perdagangan manusia dan mungkin isu ini bisa digunakan untuk membenarkan pendudukan NATO, dimana akan terjadi krisis pengungsi jika NATO kalah.
Jerman Khawatir Mengenai Biaya dan Prinsip Misi ISAF. Di Jerman dari kubu penentang pendudukan ISAF khawatir bahwa perang di Afghanistan adalah hal yang sia-sia, mereka juga berpendapat itu bukanlah urusan Jerman, dan pendudukan itu bukan hal yang patut dari sudut pandang normatif, hal ini di peroleh berdasarkan jajak pendapat INR yang dilaksankan pada tahun 2009. Kubu ini dapat dibungkam dengan melontarkan bukti hasil pekerjaan, memperingatkan tentang konsekuensi yang didapat dari kekalahan Jerman dan menjamin Jerman menjadi rekan yang sangat penting di misi NATO.
�         Menggarisbawahi kontradiksi antara pesimisme Jerman tentang ISAF dan optimisme Afghan tentang misi tersebut secara skeptisme sia-sia misi tersebut. Jajak pendapat yang sama oleh ABC/BBC/ADR diketahui bahwa 70% penduduk Afghan berpikir bahwa negara mereka berjalan ke arah yang tepat dan akan membaik di tahun 2010, sementara jajak pendapat GMF tahun 2009 menunjukkan bahwa responden Jerman pesimis tentang stabilisasi kondisi Afghanistan.
�         Berita yang didramatisir dari konsekuensi kekalahan NATO akan melawan presepsi yang meluas bahwa Afghanistan bukan merupakan urusan Jerman.  Sebagai contoh, berita yang menggambarkan bagaimana kekalahan di Afghanistan dapat meningkatkan aktivitas terosime, opium, dan tawanan perang akan mengurangi skeptisme.
�         Penekanan terhadap aspek hubungan multilateral dan aspek kemanusiaan akan memunculkan kepedulian Jerman untuk melakukan hal bermanfaat di perang dan keinginan untuk meningkatkan hubungan multilateral. Sekalipun mereka trauma dengan konflik bersenjata, Jerman akan menghilangkan ketakutan itu dan mennjukan komitmen mereka kepada NATO seperti yang dilakukan di semenanjung Balkan di tahun 90-an. Responden Jerman akan menjadikan ini alasan untuk menyatakan dukungannya kepada NATO, berdasarkan jajak pendapat INR tahun 2009. (C//NF)
Perbandingan Antara Presiden Obama dan Wanita Afghan akan Memunculkan Daya Tarik
Kepercayaan diri masyarakat Perancis dan Jerman kepada kemampuan Presiden Obama untuk mengelola hubungan luar negeri dan Afghanistan dengan baik, hal ini penting untuk misi ISAF dan juga tidak kalah penting dengan menunjukkan ekspresi kekecewaan bagi sekutunya yang tidak membantu.
�         Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan di bulan Juni 2009, sekitar 90 persen responden Perancis dan Jerman percaya pada kemampuan presiden dalam mengambil kebijakan luar negeri. Jajak pendapat yang sama menunjukkan 82% dari responsden Perancis dan 74% responden Jerman percaya pada kemampuan presiden untuk memulihkan kondisi di Afghanistan, walaupun pada nantinya strategi Amerika akan mengikis kepercayaan tersebut.
�         Jajak pendapat yang sama juga menunjukkan bahwa, ketika respondden mengingatkan bahwa Presiden Obama sendiri telah meminta untuk ditingkatkannya jumlah pasukan di Afghanistan, dukungan mereka terhadap hal ini meningkat secara dramatis, dari 4% ke 15% untuk penduduk Peracis, dan dari 7% ke 13% persen untuk penduduk Jerman. Total presentasi mungkin kecil tetapi tanggapan mereka dipandang sama dengan yang terjadi di Eropa pada umumnya. (C//NF)
Para wanita Afghan dapat dijadikan sebagai simbol ideal bagaimana peperangan antara ISAF dan Taliban sangat bernilai humanisme karena kesempatan para wanita ini untuk menyatakan pendapat dan pengalaman mengerikan mereka selama berada di bawah pemerintahan Taliban. Kesempatan para wanita Afghan untuk berbicara di media dan berbagi kisah mereka dengan para wanita Perancis, Jerman, dan Eropa akan menimbulkan dukungan mreeka kepada misi ISAF.
�         Berdasarkan jajak pendapat INR tahun 2009 para wanita Perancis 8% lebih sedikit mendukung dibanding para prianya, sedangkan para wanita Jerman 22% lebih sedikit dibanding prianya dalam hal mendukung peperangan tersebut.
�         Media yang menampilkan kisah-kisah wanita Afghan akan sangat  efektif jika disiarkan di program-program yang banyak disaksikan para wanita. (C//NF)
Catatan

ISAF (International Security Assistance Force; bahasa Indonesia: Pasukan Bantuan Keamanan Internasional) adalah misi keamanan yang dipimpin oleh NATO di Afghanistan, didirikan oleh Dewan Keamanan PBB pada 20 Desember 2001. sebagaimana disebut dalam Perjanjian Bonn
ISAF pada awalnya ditugaskan untuk mengamankan Kabul dan wilayah sekitarnya dari Taliban, al Qaeda dan faksi perang lainnya, sehingga memungkinkan untuk dibentuknya Pemerintahan Transisi Afghanistan yang dipimpin oleh Hamid Karzai. Pada bulan Oktober 2003, Dewan Keamanan PBB memerintahkan perluasan misi ISAF pada seluruh Afghanistan, dan ISAF kemudian memperluas misi dalam 4 tahap utama di seluruh Afghanistan. Sejak tahun 2006, ISAF terlibat dalam operasi tempur yang lebih intensif di Afghanistan Selatan, yang cenderung berkelanjutan pada tahun 2007 dan 2008. Serangan terhadap ISAF di bagian lain Afghanistan juga meningkat.

Pada bulan Januari 2009, ISAF memiliki 55.100 pasukan. ] Pasukan ini berasal dari 26 negara anggota NATO, 10 negara mitra, dan 2 negara non-NATO / non-mitra, Negara yang berkontribusi terhadap pasukan tersebut termasuk Denmark, Kanada, Amerika Serikat, Britania Raya, Italia, Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, Spanyol, Turki, Polandia, dan sebagian besar anggota Uni Eropa dan NATO termasuk Australia, Selandia Baru, Azerbaijan, dan Singapura. Intensitas pertempuran yang dihadapi negara kontributor cukup beragam, dimana Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada memiliki jumlah korban yang cukup signifikan pada operasi tempur yang intensif.

 

Komunitas Intelijen Amerika Serikat atau United States Intelligence Community (IC) adalah sebuah badan kerjasama dari 16 instansi independen dan departemen di Amerika Serikat bekerja secara terpisah atau bersama-sama dalam melakukan kegiatan intelijen yang dianggap baik dalam hubungan luar negeri dan melakukan perlindungan atas kepentingan-kepentingan keamanan nasional di Amerika Serikat. Anggota dari organisasi Komunitas Intelijen atau Intelligence Community (IC) termasuk didalamnya badan-badan intelijen, intelijen militer, sipil dan analisa intelijen dan kantor-kantor di departemen eksekutif federal. Komunitas Intelijen ini dipimpin oleh seorang direktur dari Badan Intelijen Nasional. Di antara berbagai tanggung jawab mereka, para anggota Komunitas ini bertugas untuk mengumpulkan dan memproduksi intelijen asing dan domestik, memberikan kontribusi untuk perencanaan militer , dan melakukan kegiatan spionase, komunitas ini dibentuk pada masa jabatan Presiden Ronald Reagan dengan mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) nomor 12333 tertanggal 4 Desember 1981.
Sesuai dengan Inpres Nomor 12333 komunitas ini mempunyai enam agenda utama  yaitu :

  1. Mengumpulkan informasi yang diperlukan oleh Presiden, termasuk Dewan Keamanan Nasional, Sekretaris Negara, Sekretaris Pertahanan, dan pejabat eksekutif dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab mereka;
  2. Memproduksi dan mengelolah data intelijen;
  3. Kumpulan informasi, melakukan kegiatan untuk melindungi terhadap, kegiatan intelijen yang ditujukan terhadap Amerika Serikat, dari kegiatan teroris internasional, kegiatan perdagangan obat bius, dan kegiatan lainnya sebagai penangkal atas seteru yang diarahkan kepada Amerika Serikat oleh kekuasaan, organisasi, orang dan agen dari pihak asing;
  4. Melakukan kegiatan khusus (didefinisikan sebagai kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung kebijakan luar negeri AS di luar negeri bertujuan dalam perencanaan dan sehingga pelaksanaan agar “peran Pemerintah Amerika Serikat tidak terlihat atau diketahui oleh publik,” dan berfungsi untuk mendukung kegiatan-kegiatan seperti itu, tetapi yang tidak dimaksudkan untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan politik di Amerika Serikat, opini publik, kebijakan, media dan atau tidak termasuk kegiatan diplomatik atau pengumpulan dan produksi intelijen atau mendukung fungsi terkait);
  5. Sebagai badan administrasi dan dukungan kegiatan yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan resmi di Amerika Serikat dan di luar negeri.
  6. Memberikan laporan intelijen kepada Presiden dari waktu ke waktu.

Anggota

The official seals of the 16 US Intelligence Community members.

IC yang terdiri dari 16 anggota (juga disebut elemen). Central Intelligence Agency (CIA) merupakan lembaga independen dari pemerintah Amerika. 15 unsur yang lain adalah kantor-kantor atau biro dalam departemen eksekutif federal. yang dipimpin oleh the Office of the Director of National Intelligence (ODNI), Badan Intelijen Nasional yang secara resmi tidak terdaftar sebagai anggota dari komunitas ini;

INR atau The Bereau of Intelligence and Research adalah biro intelejen di Departemen Dalam Negeri Amerika yang memiliki tugas menganalisis informasi. Biro ini didirikan di akhir perang dunia kedua (1942-1945). Biro ini memiliki 16 cabang . Pada bulan Juli 2004 NSA (National Security Archive) merilis laporan tentang perang Vietnam dan Iraq, diketuai oleh Thomas Hughes.
Pada bulan Juni 2009 FBI menangkap salah satu pegawai INR yang bernama Walter Kendall Myers karena menjadi agen ganda untuk pemerintah Kuba dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Dia memberikan informasi rahasia Amerika kepada pemerintah Kuba. Myers bekerja di INR sejak tahun 2000 sampai bulan Oktober 2007.
Pada tanggal 23 Oktober 2009 presiden Barack Obama menunjuk Philip S. Goldberg sebagai sekertaris jenderal INR.

Tim Penerjemah MuslimDaily.net

Sumber: http://muslimdaily.net/

Surat Cinta di Dunia Berumur 4200 Tahun

Swedia Kembali Bidik Pendiri WikiLeaks