Terjunkan Pasukan ke Libya, Inggris Terjebak Konflik Ala Vietnam

Personil militer Inggris akan dikirim ke Libya, menyebabkan sebuah peringatan bahwa Inggris sekarang mengambil resiko disedot ke dalam sebuah konflik gaya Vietnam yang bekepanjangan. Sedikitnya sepuluh senior akan dikirim ke Benghazi untuk berusaha menempa para pemberontak yang berusaha untuk menggulingkan Kolonel Moammar Gaddafi menjadi sebuah pasukan tempur yang kredibel.
Para menteri bersikeras bahwa menyebarkan “tim kepenasihatan hubungan militer” bukanlah sebuah tanda gerakan misi, namun para Anggota Parlemen dari semua partai mengatakan bahwa gerakan tersebut menunjukkan bahwa Inggris sedang diseret lebih dalam ke dalam sebuah perang sipil Libya. Pengumuman tersebut datang setelah David Cameron mendesak para menteri menyusun langkah-langkah baru membantu para pemberontak memecahkan jalan buntu militer di Libya.
Setelah lebih dari satu bulan serangan udara, para pemberontak telah gagal membuat perkembangan yang signifikan terhadap Kolonel Gaddafi. Para komando Inggris telah mengatakan kepada Perdana Menteri bahwa para pemberontak kekurangan organisasi untuk menantang pasukan pemerintahan. Cameron, yang secara pribadi memimpin upaya internasional meluncurkan intervensi Libya, dikatakan menjadi “semakin tidak sabar” dan gelisah tentang jalan buntu tersebut.
Penyebaran para penasihat militer adalah gerakan pertama yang muncul dari permintaan Cameron untuk “pemikiran kreatif” atas Libya dan yang para pejabat katakan lebih banyak pengumuman bisa saja menyusul. Dapat dipahami bahwa Pasukan Khusus menyerang pasukan Gaddafi dan bergerak untuk mempersenjatai para pemberontak, keduanya sedang dalam pertimbangan. Para pemimpin pemberontak di kota terkepung, Misrata kemarin malam mendesak Inggris dan Perancis untuk melanjutkan lebih jauh dan menugaskan pasukan tempur untuk melindungi mereka dari serangan oleh pasukan Gaddafi. “Jika mereka tidak datang, kami akan mati,” ujar Nuri Abdullah Abdullati.
William Hague, Menteri Luar Negeri Inggris, mengatakan bahwa para penasihat militer tersebut akan menunjukkan kepada Dewan Transisi Nasional pemberontak “bagaimana meningkatkan susunan organisasi militer komunikasi dan logistik mereka.” Personil Inggris akan berada di bahwa perintah ketat untuk ambil bagian di dalam perencanaan atau pengeksekusian operasi militer, Hague mengatakan: “Ini bukanlah penugasan pasukan ke medan tempur, ini bukanlah pasukan tempur. Orang-orang ini bukanlah orang-orang yang bertempur di medan pertempuran, orang-orang ini menasihati tentang organsasi.”
Perancis juga menyebarkan para penasihat militer ke Libya. Beberapa Anggota Parlemen Perancis ingin menyebarkan pasukan tempur namun Alain Juppe, menteri Luar Negeri Perancis, mengatakan bahwa ia “secara keseluruhan menentang” gagasan tersebut. Pengumuman Inggris untuk merancang peringatan dari para Anggota Parlemen bahwa misi Inggris di Libya sekarang telah berubah secara signifikan dari kampanye serangan kemanusiaan yang disetujui oleh MPR bulan lalu.
Menzies Campbell, mantan pemimpin Demokrat Liberal, memperingatkan bahwa Inggris mengambil resiko menjadi terlibat di dalam sebuah rawa militer di Libya.
Ia mengatakan: “Penyebaran ini harus tidak dipandang sebagai sebuah cicilan penyebaran militer lebih jauh. Vietnam mulai dengan seorang presiden Amerika yang mengirimkan para penasihat militer. Kami harus beralih dengan kewapadaan.”
Anggota Parlemen konservatif mengatakan bahwa Cameron akan menghadapi banyak pertanyaan di MPR pekan depan tentang perubahan misi di Libya.”
Anggota Parlemen John Baron mengatakan: “Ini adalah bukti yang jelas tentang gerakan misi tersebut. Sekarang kami mulai menempatkan personil militer di medan tempur, sesuatu yang bahkan tidak dibahas ketika kami memperdebatkan masalah ini.”
Anggota Parlemen Peter Bone mengatakan: “Kami nampaknya berpihak di dalam sebuah perang sipil. Yang kemungkinan menjadi tepat, namun ini bukan Pemerintah yang memutuskan, Parlemen yang memutuskan,” ia mengatakan.
Misi militer diumumkan ketika pasukan Inggris ambil bagian di dalam sebuah serangan yang sumber-sumbernya katakan menggembor-gemborkan sebuah perubahan di dalam taktik NATO. Pesawat perang Inggris dan Perancis melanjutkan “serangan sengaja, dan berlipat-lipat” pada pusat komunikasi Gaddafi. Kapal selam Angkatan Laut Kerajaan, Triumph juga meluncurkan misil Tomahawk.
Francois Fillon, Perdana Menteri Perancis, mengatakan bahwa banyak sekutu akan “mengintensifkan upaya militer kami dari angkatan udara kami untuk mencegah pasukan Gaddafi mengejar serangan mereka pada populasi penduduk sipil.” Untuk mengatasi sebuah kekurangan pesawat tempur NATO, Perancis telah menyediakan pesawat tempur tambahan dan menggerakkan pesawat Charles De Gaulle-nya ke Misurata untuk memberikan “rotasi dan target yang lebih cepat “, ujar sebuah sumber. (ppt/tlg)
Sumber: http://www.suaramedia.com

AS-NATO Carikan Persembunyian untuk Gaddafi?

Perancis Desak Sekutu untuk Turunkan Pasukan Darat