Teror Udara Ungkap Rencana Licik AS di Pakistan

AS pernah dijuluki sebagai setan besar oleh Ayatollah Khomeini. Menilik tren tersebut, tidak terlalu lama lagi AS akan mendapatkan sebutan yang serupa di Pakistan. Sejak AS memutuskan untuk melancarkan serangan mematikan melalui teror pesawat tanpa awak di Pakistan, ada banyak kecaman keras terhadap AS, dan kecaman tersebut semakin meluas.
Letupan amarah terhadap rancangan undang-undang bantuan luar negeri Kerry-Lugar memunculkan masalah tersebut ke permukaan.
Pada saat tancangan undang-undang tersebut dikeluarkan, hal tersebut merupakan penghinaan terhadap kedaulatan nasional, demikian kata seorang komandan korps. Kehormatan nasional Pakistan telah diserang. Tidak peduli apakah yang memberikan adalah satu-satunya negara superpower di dunia. Apapun tujuannya, hal tersebut telah meresahkan masyarakat sipil.
Kekalahan terhadap kekuatan-kekuatan anti-AS menjadi fakta bahwa AS tidak berkewajiban mengucurkan dana $7,5 miliar untuk Pakistan dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Seperti yang dikatakan oleh Senator Kerry, jika Pakistan tidak senang dengan berbagai persyaratan yang menyertai dana bantuan tersebut, mereka tinggal menolak dana tersebut. Ada banyak tempat dimana AS dapat menghabiskan dana tersebut.
Mengenai anti-Amerikanisme, tidak ada keraguan bahwa Al Qaeda dan Taliban berada di garis depan. Namun partai-partai sayap kanan juga tidak terlalu tertinggal di belakang. Dalam sebuah unjuk rasa yang baru-baru ini digelar di Pakistan, pria-pria memegang papan yel-yel yang bertuliskan: “Hancurkan, hancurkan Amerika!”.
Sikap anti-AS juga telah mempengaruhi media elektronik. Teori-teori konspirasi yang melibatkan AS banyak dikumandangkan. Bahkan sejumlah tokoh terkemuka turut melakukan hal yang serupa.
Yang terbaru adalah Shamshad Ahmad, seorang mantan menteri luar negeri dan mantan duta besar Pakistan untuk PBB.
Dalam sebuah seminar yang mengangkat tema kedaulatan nasional di Karachi, Ahmad. Dia membahas tiga hal, pertama, AS tidak membantu Pakistan dalam perang dengan India pada tahun 1965. Hal ini mengaburkan fakta bahwa perang tersebut diawali oleh Pakistan dan bahwa persenjataan AS tidak boleh dipergunakan terhadap India.
Yang kedua, hal yang serupa terjadi pada perang Pakistan dengan India pada tahun 1971. Hal ini mengaburkan fakta bahwa peperangan tersebut dipicu oleh ambisi militer untuk menghapuskan hasil pemilihan umum dan meraih kekuasaan absolut.
Yang ketiga, AS mengabaikan Pakistan ketika Uni Soviet mundur dari Afghanistan pada tahun 1989. Hal ini mengaburkan fakta bahwa AS tidak menjamin keamanan Pakistan ketika berhadapan dengan musuh dari seluruh golongan.
Mantan menteri luar negeri Pakistan tersebut berkata: “AS telah memanfaatkan kami sebagai mata-mata di masa lalu demi memenuhi ambisi mereka, saat ini, kami dimanfaatkan sebagai tentara bayaran. Yang memanaskan keadaan di kawasan ini adalah intervensi AS, bukan Rusia.”
Sejumlah analis politik mengikuti teori konspirasi mengenai serangan terhadap Pearl Harbour pada tanggal 7 Desember 1941, dan serangan 11 September 2001. Ahmad melakukan hal yang serupa dengan mengatakan bahwa invasi Soviet di Afghanistan pada penghujung tahun 1979 direncanakan oleh AS.
Ahmad mengatakan, “AS memikirkan dan merencanakan hal-hal yang ingin mereka raih dalam waktu 50 atau 60 tahun. Mereka sengaja menciptakan kekosongan di Afghanistan. Jadi, setelah melakukan manuver politik di Afghanistan, AS menciptakan cara untuk menghisap Uni Soviet ke dalam ruang hampa tersebut.”
Ia menambahkan, AS membujuk Pakistan untuk berada di pihak mereka dengan mengatakan bahwa Uni Soviet hendak memenuhi ambisi czar untuk mendirikan pelabuhan air hangat. Setelah invasi Soviet, Jenderal Ziaul Haq mengajukan permohonan untuk mendapatkan bantuan Barat, ia mengatakan bahwa ada kekaisaran jahat yang ingin mengambil alih Gwadar. Haq terkenal karena menolak tawaran paket bantuan sebesar $400 juta dari Presiden Jimmy Carter dan menyebutnya sebagai “kacang tanah”. Namun ketika Presiden Ronald Reagan menawarkan bantuan sebesar $3,2 miliar, Haq tersenyum lebar.
Ahmad menambahkan bahwa AS memaksa Pakistan untuk memerangi perjuangan di Afghanistan demi memenuhi agenda Perang Dingin AS. “Dan apa yang didapatkan Pakistan? Yang ada hanyalah perkataan bahwa obat terlarang, persenjataan dan amunisi masih mengotori masyarakat kami.”
Sebuah teori ultranasionalis yang semakin populer di Pakistan menyebutkan bahwa ada perdamaian di kawasan tersebut hingga AS datang mengacau pada bulan Oktober 2001. Kaum ultranasionalis juga mengemukakan beberapa teori pendorong.
Yang pertama, AS adalah dalang serangan 9/11 yang ditujukan kepada negaranya sendiri, hal itu dilakukan karena AS membutuhkan alasan untuk menyerbu Afghanistan dan mengendalikan akses terhadap gas alam. Yang kedua, bahwa Usama bin Laden tidak berada di balik peristiwa 9/11, ia adalah seorang agen AS yang dilatih dan dipersenjatai oleh CIA dan terbunuh pada bulan Desember 2001. Yang ketiga, kelompok yang bernama Al Qaeda tidak pernah ada. Keempat dan terakhir, Taliban sejatinya merupakan sekelompok orang yang cinta damai dan hanya berusaha membebaskan negara mereka dari belenggu penjajahan asing. (dn/dn)
Sumber: http://suaramedia.com

Patahkan Tekanan AS � Israel, Rusia Perkokoh Militer Iran

Media Klaim CIA Kirim Ratusan Mata-mata Israel ke Pakistan