WikiLeaks: AS Kritik Habis Presiden Argentina

VIVAnews – Argentina dianggap tidak becus mengatasi praktik pencucian uang hasil kejahatan terorganisir di negara itu. Bahkan Presiden Argentina, Cristina Fernandez, digosipkan mengkonsumsi obat penenang dan seorang pejabat tinggi di negara itu disinyalir terkait dengan penyelundup obat terlarang.

 
Cristina Fernandez (AP Photo)

Demikian ungkap laman WikiLeaks, yang memuat sejumlah bocoran informasi, yang diklaim sebagai memo diplomatik dari Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Buenos Aires setahun yang lalu. Menurut kantor berita Associated Press, yang memantau bocoran WikiLeaks, laporan-laporan ke Washington DC itu berkatagori rahasia.

Laporan diplomatik AS mengenai Argentina itu hanya satu dari beragam topik yang dibocorkan di laman WikiLeaks, yang sejak 28 November lalu mulai mengunggah lebih dari 251.000 informasi rahasia AS berupa memo diplomatik dari Kedubes mereka di mancanegara.

Bocoran sejumlah memo rahasia Kedubes AS di Buenos Aires itu mendapat perhatian besar dari sejumlah media massa utama di Argentina, yang ramai-ramai memberitakannya. Dalam edisi Kamis, 2 Desember 2010, sejumlah surat kabar oposisi Argentina mengulas suatu memo dari Kedubes AS tertanggal 1 Desember 2009.  

Memo itu berupa laporan mengenai upaya Argentina dalam memerangi pencucian uang. Kesimpulan laporan itu: Argentina rentan jadi sasaran eksploitasi para penyelundup narkoba dan sel-sel teroris akibat nyaris tiadanya penegakan hukum yang dibarengi dengan maraknya budaya impunitas dan korupsi.     

Kedubes AS juga menyarankan kepada Washington agar jangan berharap banyak kepada pemerintah Argentina atas isu pencucian uang, termasuk kepada Presiden Cristina Fernandez dan suaminya, mantan Presiden Nestor Kirchner yang wafat pada Oktober lalu. Mereka berdua dianggap punya kekayaan dari bisnis real estat dan sejumlah hakim pengadilan menolak memproses perkara itu meski sudah berulangkali dilakukan penyelidikan. 

“Sejumlah kontak Kedubes menilai bahwa pemerintahan saat ini, termasuk presidennya, tidak mampu untuk berbuat optimal dan jujur dalam mengusut pencucian uang,” demikian salah satu kutipan memo itu.

“Kemungkinan besar tidak realistis untuk berharap bahwa GoA [pemerintah Argentina] akan mendukung aparat kejaksaan atau berupaya mengejar pelaku pencucian uang. Pasangan Kirchner dan lingkar dekat mereka mengambil banyak keuntungan dari kurangnya penegakan hukum,” lanjut laporan itu.

Bocoran memo lainnya adalah tertanggal 31 Desember 2009, berupa instruksi kepada Kedubes AS untuk mencari tahu apakah Presiden Cristina Fernandez mengonsumsi obat untuk mengendalikan kondisi mentalnya. Memo lain, tertanggal 10 September 2009, memaparkan kecurigaan bahwa pejabat kepala kabinet Argentina punya hubungan dengan pengedar obat terlarang.  

Belum ada tanggapan langsung dari Fernandez maupun pemerintah Argentina atas bocoran informasi itu. Namun, Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, Kamis lalu menelpon Fernandez dari Asia Tengah untuk meminta maaf atas perkembangan yang terjadi terkait ulah WikiLeaks.

Menurut Juru Bicara Deplu AS, PJ Crowley, Fernandez mengatakan kepada Clinton bahwa hubungan baik Argentina dan AS jauh lebih penting untuk dibicarakan. 

WikiLeaks: Moskow Adalah Sarang Koruptor

Indonesia Tak Khawatir Bocoran WikiLeaks