WikiLeaks: China Sebut Korea Utara "Anak Kolokan"

VIVAnews – China diketahui merasa frustrasi dengan sikap sekutunya, Korea Utara (Korut), yang terus melancarkan permusuhan dengan Korea Selatan (Korsel) dan negara-negara lain. Negeri Tiongkok pun kabarnya menerima ide penyatuan Dua Korea di bawah kepemimpinan Korsel.

 
Pemimpin Korut, Kim Jong-il, bersama Presiden China,
Hu Jintao (AP Photo/Xinhua, Lan Hongguang)

Demikian menurut informasi yang diungkap laman “spesialis pembocor rahasia pemerintah AS,” WikiLeaks, yang juga dimuat kantor berita Associated Press. Informasi itu berasal dari laporan, yang diklaim WikiLeaks sebagai memo rahasia, yang merekam komunikasi diplomatik kiriman sejumlah Kedutaan Besar AS di luar negeri dan Departemen Luar Negeri AS di Washington DC.

Sejumlah memo berkatagori rahasia itu mendokumentasikan percakapan antara diplomat AS dan Korsel mengenai sikap China atas masa depan Korut, yang melakukan serangan artileri ke Pulau Yeonpyeong di Korsel, 23 November 2010. 

China akan merasa nyaman dengan penyatuan Korea yang dikendalikan oleh Seoul (Korsel) dan menjalin aliansi dengan AS selama Korea tidak bermusuhan dengan Beijing. Demikian ungkap memo yang merekam percakapan antara wakil Menteri LUar Negeri (Menlu) Korsel, Chun Yung-woo, dengan Duta Besar AS di Seoul, Kathleen Stephens, Februari 2010.

Kalangan pejabat China disebut-sebut juga menggunakan istilah yang tidak menyenangkan bagi Korut. Ini sangat bertolakbelakang dengan pernyataan-pernyataan resmi China selama ini, yang selalu menegaskan ikatan yang erat dengan Korut.

Suatu memo menyebutkan bahwa Deputi Menlu China, He Yafei, dalam suatu pertemuan dengan seorang pejabat AS pada April 2009 berkata bahwa Pyongyang bertindak seperti “anak kolokan” dengan menggelar uji rudal demi menuntut dialog langsung dengan AS.

China bahkan dikabarkan bersiap melakukan kekacauan di sepanjang perbatasan dengan Korut, yang bisa berbuntut tumbangnya rezim di Pyongyang. Pejabat China, menurut suatu memo, yakin bisa mengatasi pengungsi Korut hingga 300.000 orang, namun pada akhirnya harus menutup perbatasan untuk menjaga situasi. Klaim itu dikutip dari suatu perwakilan organisasi bantuan internasional yang tidak disebut namanya. 
 
Namun, kiriman sejumlah kawat diplomatik AS mengingatkan bahwa China mungkin tidak mau menerima kehadiran pasukan AS di zona demiliterisasi bagian utara bila terjadi konflik.

Belum ada reaksi dari China atas informasi yang dipublikasikan WikiLeaks itu.

Sedikitnya lima media massa utama internasional, Minggu 28 November 2010, juga mempublikasikan sejumlah bocoran informasi yang mulai disebarkan WikiLeaks. Mereka yaitu New York Times (AS),  Guardian (Inggris), Der Spiegel (Jerman), Le Monde (Prancis) dan El Pais (Spanyol). (umi)
� VIVAnews

Indonesia Tidak Perlu Reaktif Atas Bocoran WikiLeaks

WikiLeaks: Sarkozy Membuat Arab Tersinggung