Wisata Di Gua Lawa Malang Selatan Uji Nyali

Khas Wisata ~Wisata Di Gua Lawa Malang Selatan Uji Nyali, Setelah turun dari kereta api yang ditempu selam 2 jam dari kota Surabaya akhirnya tiba di stasiun Kepanjen. Kemudian dilanjutkan dengan naik angkutan umum untuk menuju desa Sumber Manjing, disana rencana kita akan menginap di salah satu rumah penduduk yang merupakan tokoh setempat  kami sebut dengan pak Bayan. Dari tempat pak Bayan  harus berjalan kaki sejauh 1km untuk menuju entrance atau mulut gua. kami terdiri dari

1. Anes merupakan teman satu angkatan baik kuliah maupun satu diklat dengan saya ,  dia memiliki pengalaman organisasi lebih banyak dari pada teman seangkatan karena sejak smu dia  berkecimpung dalam dunia organisasi.

2. Riza Cipta teman seangkata baik ni juga teman seangkatan di kuliah dan satu penderiataan di diklat yang akhinya nanti menemani di setiap kegiatan organisasi hingga menjadi pengurus, yang paling enak jika ada dia suasana selalu dipenuhi dengan canda tawa khas dia

3. Efendik orang yang paling pendiam diantara kami dia kuliah satu tahun diatas kami, karena kecinaanya akan kegiatan alam dia bertekat untuk ikut di tahun berikutnya yaitu tahun aku pertama kuliah.

4. Indra Retno salah satu seniorku yang memiliki tubuh mungil dan juga biasa mengeluarkan joke atau banyolan demi mengimbangi Riza. Dia banyak mengetahui ilmu teori tentang gua.

5. Eka Nur biasa dipanggil sincan ini salah satu senior yang jago dalam pemetaan gua , dan memiliki tubuh paling subur diantara kami.

6. Erlin Cristin merupakan senior ku yang paling cantik dan juga memiliki wibawa sehingga dia dijadikan pengasuh buat kami yang baru pertama kali bergiatan di gua

7. Waluyo biasa di panggil dengan krupuk karena selain badanya yang kurus juga ada produsen lokal yang bermerk sesuai dengan namanya. Dia merupakan ketua perjalanan ini.

8. Orang ke delapan adalah Novandri orang yang berkeinginan mendalami ilmu caving yang merupakan senior satu angkata diatas kami.

9. Orang terakhir adalah Khrisma A merupakan pengurus yang menangani bidang operasional seperti yang kami lakukan.

Seperti biasa sebelum masuk gua kami melakukan pemanasan setelah itu dilanjutkan dengan berdoa. Setelah alat- alat penelusuran terpasang di badan, kita siap untuk melakukan penelusuran. Dari mulut  gua kami berjalan turun karena karakter mulut gua yang besar tetapi jalan sebenarnya berada dibawah. Setelah melewati zona terang kita harus berjalan di zona senja. Dalam zona senja ini harus dilewati dengan merangkak tetapi tidak perlu berlama- lama karena perjalanan bisa dilanjutkan dengan berjalan melalui aliran air yang berlumpur. Disini masih tampak beberapa cahaya karena ada avent atau jendela gua yang berada diatas gua± 10s/d 15m tingginnya.

Perjalanan didalam zona gelap ini lebih berat karena selain penglihatan kita mengandalkan bantuan lampu senter dan BOOM (helm yang gunanya selain sebagai pengaman kepala juga berfungsi sebagai penerangan diatas helm ini ada alat yang untuk mengeluarkan api dari bahan karbit) juga aliran air yang kami lalui setinggi lutut ditambah lumpur dibawah air yang harus kami pijak sehingga terjatuh karena kaki kami menancap dilumpurpun sering terjadi pada tiap orang.

Tetapi karena perjalanan kami menggunakan system moving together yaitu berjalan secara bersamaan dengan tali penghubung dari orang pertama yang berada didepan sampai dengan orang yang berada paling belakang hal ini membuat bahaya bisa diminimalisir.

Kami menggunakan peralatan lengkap dari atas kepala helm sampai kaki dengan sepatu tracking dan tubuh terbungkus dengan pakaian coverall ditambah dengan pelampung yang melekat pada tubuh kami, sehingga walaupun terjatuh di air dan Lumpur ditubuh , tubuh kami tidak sampai kotor semua dan hawa dingin dalam gua pun bisa tertahan .

Setelah berjalan hampir separoh perjalanan medan yang kami lalui mulai bersahabat dengan batu sebagai dasar lantai membantu meringankan langkah kami, dan yang istimewah diatas kami dan dinding dikanan kiri kami ketika terkena cahaya memperlihatkan ornament yang sangat indah.

Batu berlipat- lipat menggantung disebut juga dengan gourdam, sedotan berwarna putih susu, (soda strow) stalaktit dan stalakmit dari yang kecil sampai besar bahkan ada gabungan dari keduanya berwarna coklat keemasan, ditambah tangga batu yang sebenarnya sangat disayangkan untuk menginjaknya, membuat saya yang baru pertama masuk gua menjadi terperangah dan takjub, perasaan senang dan ucapan syukur sekaligus terucap dalam hati pada tuhan karena keindahan yang dimiliki Gua Lawa dan ucapan terima kasih karena telah di beri kesempatan untuk menikmati keindahanya

Mungkin itulah Artikel Kali ini kami kutip dari ceritapetualang.com, semoga tambah wawasan kita dalam dunia Pariwisata khusunya bagi anda yang suka berpergian mengeliling tempat-tempat terbaik dan populer, selamat traveling

Sejarah Hari Jadi Kota Jakarta Tanggal 22 Juni

Cara Menghadapi Cowok Suka Gosip Bin Ember