Zardari: Militer Pakistan Lakukan Permainan Ganda

Bruce Riedel, seorang mantan agen CIA, mengklaim bahwa Presiden Pakistan Asif Ali Zardari menuding militernya, yang diam-diam mendukung Lashkar-e-Taiba yang diduga menjadi pelaku serangan Mumbai 2008, memainkan permainan ganda dalam “perang melawan teror”. Riedel juga mengklaim ada “banyak bukti yang mendukungnya.”

“Militer Pakistan dan ISI (Inter-Services Intelligence) tidak bisa diandalkan dalam memerangi semua Frankenstein yang mereka bantu ciptakan dalam tiga dekade terakhir. Bahkan presiden Pakistan sendiri, Asif Ali Zardari, menuding militernya mendukung dua sisi dalam perang melawan teror. Yang meresahkan, ada banyak bukti yang mendukungnya,” tulis Riedel, penulis buku Deadly Embrace: Pakistan, America, and the Future of the Global Jihad (Pelukan Mematikan: Pakistan, Amerika, dan Masa Depan Jihad Global), di Newsweek.
“Ambil contoh Lashkar-e-Taiba, kelompok yang dituding menyerang ibukota keuangan India, Mumbai, pada 2008, menewaskan 164 orang. Saat ini, LeT terus mendapatkan perlindungan dari Angkatan Darat. (Jenderal Ahmed Shuja) Pasha, sang kepala intelijen, pernah dipanggil sebuah pengadilan di New York City untuk menjawab tudingan bahwa ISI mengawasi berlangsungnya serangan Mumbai,” tambah Riedel.
Riedel menambahkan, meski Pakistan juga menjadi korban teror, perilakunya yang bertentangan adalah akar penyebab ketegangan hubungan dengan Amerika Serikat. Ribuan warga Pakistan tewas akibat pengeboman, dan negara itu mengerahkan lebih banyak pasukan di sepanjang perbatasan Afghanistan dibandingkan pasukan NATO di seluruh wilayah Afghanistan.
“Angkatan Darat Pakistan � yang tidak perlu dipertanyakan lagi memegang kekuasaan di balik tahta � merasa semakin gelisah dan marah dengan kinerja intelijen Amerika dalam dua tahun terakhir,” tulis Riedel. “Keruwetan dan tindak tanduk Pakistan yang bertentangan � sebenarnya sebagian besarnya didorong obsesi Angkatan Darat Pakistan terhadap India � merupakan inti perselisihan antara Islamabad dan Washington. Tidak ada solusi yang sederhana,” tulis Riedel, yang merupakan staf senior Saban Center di Brookings Institution.
Riedel berpandangan bahwa jika aliansi AS dan Pakistan semakin bergeser ke selatan, hanya al-Qaeda yang akan muncul sebagai pemenang sejati, dan tujuan Presiden AS Barack Obama untuk “mengganggu, membongkar, dan mengalahkan al-Qaeda” akan menjadi semakin mustahil jika operasi drone melambat dan dua badan intelijen, CIA-nya Amerika dan ISI dari Pakistan, tidak akur.
Karena Pakistan kini memiliki persenjataan nuklir yang pertumbuhannya paling pesat di dunia, Islamabad menjadi makin menentang tekanan dan intimidasi dari luar. Pemimpin Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Ashfaq Parvez Kayani, sadar benar bahwa, tidak seperti Afghanistan, Irak, atau Libya, AS bahkan tidak bisa mempertimbangkan penggunaan kekerasan untuk menekan Pakistan, tulis Riedel. Sang mantan agen CIA juga mengetenahkan bahwa Pakistan juga mengendalikan jalur pasokan utama untuk pasukan NATO, yakni rute dari Karachi ke Kabul di Afghanistan.
“Jadi, pada akhirnya Washington tahu bahwa pihaknya butuh Pakistan, tak peduli betapa membikin frustrasi atau mengesalkannya hubungan itu. Sementara itu, India, yang menjadi sasaran sebagian besar teror dari Pakistan dan juga target senjata nuklir negara tersebut, juga mengalami dilema yang kurang lebih serupa,” tulis Riedel. Riedel menyebutkan, meski India mendesak Pakistan menghancurkan LeT dan kelompok-kelompok lain, India tidak punya alat untuk memaksa Pakistan melakukan itu.
“(India) tidak ingin ada negara gagal di seberang perbatasannya yang dipersenjatai senjata nuklir. Jadi, India tidak bisa merusak demokrasi Pakistan yang sudah rapuh dengan operasi rahasia yang hanya akan memperkuat para ekstremis. India bisa mengintimidasi lawan nuklir. Jadi, bulan lalu India melanjutkan dialog dengan Pakistan yang dihentikan sejak serangan Mumbai,” tulisnya. (dn/nk)
Sumber: http://www.suaramedia.com

Kode Perang: Pantai Utah

Proyek Iron Dome Perkuat Kerjasama Amerika-Israel