Zhang Shicheng Si Pemimpin Pemberontakan Anti-Yuan

Zhang Shicheng (Hanzi: ???, 1321-1367) adalah seorang pemimpin pemberontakan anti-Yuan pada akhir Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia dilahirkan di Baijuchang, Taizhou (sekarang kabupaten Dafeng, Jiangsu) dari keluarga pedagang garam. Nama kecil/ panggilannya adalah Jiusi (??). Tahun 1353, karena tidak tahan dengan tekanan yang berlebihan dari kebijakan pemerintah atas garam, Zhang mengangkat senjata dan memberontak terhadap pemerintah. Bersamanya turut pula adik-adiknya Zhang Shiyi, Zhang Shide, Zhang Shixin, dan seorang bandar garam bernama Li Bosheng. Dalam waktu singkat pasukan pemberontak itu telah menduduki Taizhou, Xinghua, Gaoyou, dan beberapa kota penting di utara Sungai Changjiang. Tahun berikutnya ia memproklamirkan dirinya sebagai Raja Cheng dan menamakan dinastinya Dinasti Zhou (bedakan dengan Dinasti Zhou yang menguasai Tiongkok abad ke-12 hingga abad ke-3 SM).

Tahun 1355, Zhang terus melebarkan pengaruhnya ke selatan. Ia berhasil mencaplok Pingjianglu (sekarang Suzhou) dan mengubah namanya menjadi Longpingfu. Tahun 1357, pemerintah Yuan mengirim pasukan kerajaan untuk menumpas pemberontakan itu. Digempur bertubi-tubi oleh Fang Guozhen yang diutus oleh pemerintah, Zhang memilih menyerah. Atas penyerahan dirinya pemerintah memberinya jabatan sebagai komandan militer.

Saat itu pemberontakan terhadap rezim Yuan, Mongol sedang marak-maraknya. Zhang memanfaatkan kesempatan saat para pemimpin anti-Yuan lainnya, seperti Zhu Yuanzhang dan Chen Youliang, sedang bertikai dan jabatan yang diperolehnya untuk diam-diam membangun kembali kekuatannya. Ia menyebarkan pengaruhnya di wilayah Xuzhou hingga Shaoxing di selatan, ia juga melakukan kontak rahasia dengan kelompok-kelompok separatis. Kekuatan pasukannya terus bertumbuh hingga mencapai seratus ribu orang, selain itu juga didukung oleh logistik yang memadai. Tahun 1363, Zhang mengirim jenderalnya, Lu Zhen menyerang pasukan pemberontak sorban merah di Anfeng. Pemimpin pemberontak itu, Han Lin�er dan Liu Futong melarikan diri dan bergabung dengan Zhu Yuanzhang. Bulan September tahun itu juga, Zhang kembali memberontak terhadap Dinasti Yuan. Ia mengangkat dirinya sebagai Raja Wu dan adiknya, Zhang Shixin, sebagai perdana menterinya.

Kini lawan Zhang, bukan hanya Dinasti Yuan, tapi juga Zhu Yuanzhang, mereka berkali-kali terlibat pertempuran. Dalam menghadapi Zhang, Zhu memakai siasat menduduki kota-kota pentingnya satu-persatu untuk melemahkan kekuatannya sambil berkonsentrasi menghadapi lawannya yang lebih kuat, Chen Youliang. Zhang yang sombong dan hidung belang, memandang enteng hal ini, dia berpangku tangan saja ketika Zhu mengalahkan Chen Youliang di Yingtian (sekarang Nanjing), tidak sadar bahaya makin mendekat. Setelah menghancurkan Chen Youliang (1363) barulah Zhu mulai memusatkan perhatiannya pada Zhang. Tahun 1366 Zhu memulai penyerangan besarnya pada Zhang. Tahun 1367, markas besar Zhang di Pingjiang, Suzhou dikepung rapat-rapat oleh pasukan Zhu. Setelah sembilan bulan dikepung, tembok kota itu akhirnya berhasil dijebol. Zhang diringkus oleh Chang Yuchun, jenderal bawahan Zhu Yuanzhang, lalu digiring dengan kereta tahanan ke Yingtian dimana ia gantung diri karena malu.

Makam Zhang Shicheng di kota Xietang, Suzhou masih berdiri hingga kini. Setelah kematiannya, kenangan terhadap dirinya masih membekas dalam hati penduduk Suzhou. Setiap tanggal 30 Juli (ulang tahun Zhang), penduduk lokal memperingatinya dengan menggantungkan naga-nagaan dari jerami di pintu rumah mereka dan membakar 94 batang dupa sesuai nama kecil Zhang (??, Jiusi yang artinya 94). Perayaan ini terus berlangsung hingga berdirinya pemerintahan komunis Republik Rakyat Cina.

Kaisar Qianlong, Pemimpin Militer Yang Sukses

Ada apa antara Meriam Bellina-Hotman Paris?